Nenek Moyang Buaya
| Buaya Sudah Tersenyum Sejak Jaman Dulu Buaya ternyata memiliki tengkorak lebar dan rahang yang seolah "tersenyum" sejak jutaan tahun lalu. Uniknya karakteristik ini didapat justru sejak mereka masih tinggal di darat dan belum memiliki tubuh perenang. Demikian menurut sebuah penelitian mengenai nenek moyang buaya yang ditemukan di Wucaiwang, propinsi Xinjiang, barat laut Cina. Buaya secara umum termasuk keluarga crocodilian yang terdiri dari buaya (crocodile), alligator, caiman, gavial, dan beberapa jenis lain yang telah punah. Semua anggota keluarga ini memiliki moncong panjang yang pangkalnya seolah memberi senyuman pada makhluk lain. Nah, fosil yang berasal dari makhluk bernama Junggarsuchus sloani ini juga menunjukkan karakteristik serupa. Ia memiliki tengkorak dan senyum seperti buaya modern. Hanya saja tubuhnya lebih condong mendekati sphenosuchian --sebangsa buaya kecil (dipercaya sebagai nenek moyang buaya modern) yang hidup di darat dan hidup antara 230 juta hingga 150 juta tahun lalu. Menurut James Clark, profesor biologi di Universitas George Washington, kaki depan Junggarsuchus lebih cocok untuk berjalan di darat dibanding sphenosuchian lain sejamannya. Dalam tulisan di journal Nature, Clark dan rekan-rekannya, yakni Xu Xing dan Yuan Wang, dari Akademi Ilmu Pengetahuan Beijing, serta Catherine Forster, dari Universitas Stony Brook di New York State, mengatakan, berdasar analisa fosil diduga tengkorak buaya modern mengalami evolusi saat tubuh dan kaki mereka berevolusi menuju kemampuan berjalan yang lebih baik dan bukannya saat berubah menjadi perenang ulung. Tanda-tanda kemampuan berjalan di darat itu terutama tampak pada kaki depan, termasuk sambungan sendi dipundak yang terlihat serupa dengan sambungan sendi mamalia. "Tanda ini menunjukkan bahwa kaki depan Junggarsuchus berada di bawah tubuh, bukan di sampingnya seperti pada buaya masa kini," kata Clark. Crocodilian dan Sphenosuchian Buaya-buaya modern memiliki kaki-kaki melintang dan tubuh lebar, sehingga cara berjalannya dari sisi ke sisi. Sphenosuchian, kebalikannya, memiliki kaki-kaki tegak seperti dinosaurus dan mamalia. Dalam air, buaya melipat kaki-kakinya ke tubuh lalu menggoyangkan ekor kuatnya untuk berenang. Lubang hidung yang berada di atas moncongnya tetap bisa bernafas walau tubuhnya berada di bawah air. Sebagai pemangsa oportunis, buaya akan menunggu mangsanya lewat lalu secepat kilat menerjang dengan rahang-rahangnya yang kuat. Ia akan menelan langsung mangsa yang cukup kecil, atau merobek-robeknya bila buruannya besar. Menurut Hans-Dieter Sues, direktur riset dan koleksi Smithsonian Institution’s National Museum of Natural History, Washington, tidak ada yang tahu faktor apa yang membuat buaya modern beradaptasi dengan lingkungan semi aquatik. "Yang jelas, kemampuan untuk menerkam mangsa dengan rahang dan bentuk mulut yang tersenyum telah lama dimiliki sejak nenek moyang mereka hidup jaman pertengahan Jurassic." (nationalgeographic.com/AFP/wsn) |
posted by febrie at 2:00 PM

buaya,,,, tersenyum ???